Selasa, 21 Januari 2020

Thalasemia : penyakit dari ketidakpedulian


    Thalasemia, apa itu?

     Thalasemia ialah sebuah kelainan pada darah bawaan yang ditandai dengan kurangnya hemoglobin dalam darah yang membuat penderita kekurangan oksigen dalam tubuhnya. Penderita thalasemia memiliki jumlah sel darah merah yang kurang dari jumlah sel darah merah yang dibutuhkan orang normal pada umumnya. Karena kurangnya supply oksigen di dalam tubuh, para penderita ini diharuskan menerima transfusi darah demi kelangsungan hidupnya.
     Jumlah penderita thalasemia di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2011, jumlah penderita thalasemia mayor di Indonesia sekitar 5.000 orang jumlah itu meningkat drastis menjadi 9.121 orang pada tahun 2017. Jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan pada tahun 2028 penderita thalasemia mencapai angka 25 ribu orang.
     Penderita thalasemia biasa diketahui sejak tahun-tahun awal kehidupannya. Gejala awal terjadinya thalasemia ditandai dengan terjadinya anemia yang membuat penderita menjadi mudah lelah dan lemas. Gejala sepertu ini dirasakan selama 2 tahun pertama kehidupan. Namun untuk pembawa gen thalasemia, anemia ini hanya terjadi beberapa kali dalam hidup, tidak sesering penderita thalasemia.
Thalasemia bisa dibagi menjadi beberapa macam, antara lain : 
a. Thalasemia alfa
Thalasemia alfa disebabkan oleh mutasi pada gen globin, yang terjadi karena penurunan sintesis dari rantai alfa globulin. Kelainan ini berhubungan dengan delesi atau penghapusan basa dalam genom suatu organisme. Delesi pada penderita thalasemia alfa terjadi di kromosom 16. Simplenya, terjadi karena tidak sempurnanya mutasi gen dan hilangnya rantai globin alfa.
Rantai globin alfa merupakan komponen penting molekul hemoglobin dalam janin. Hilangnya rantai globin alfa dapat menyebabkan kematian dini pada janin. Resiko tersebut hanya dialami dalam kandungan. Apabila bayi tersebut sudah lahir ke dunia, bayi tersebut dapat hidup dengan normal layaknya orang biasa tanpa harus menerima transfusi darah.
b. Thalasemia beta
Thalasemia beta dibagi lagi menjadi thalasemia beta minor dan thalasemia beta mayor. Thalasemia beta minor hanyalah sebatas pembawa gen thalasemia. Thalasemia beta minor  ini hanya mengalami gejala anemia saja semasa hidupnya, dan tak memerlukan transfusi darah.
Thalasemia beta mayor ialah kondisi dimana sel darah merah yang seharusnya berusia kurang lebih 120 hari menjadi lebih pendek usianya. Penderita mengalami gangguan dalam pembentukan sel darah merahnya tersebut. Sumsum tulang dari para penderita ini tidak mampu menghasilkan sel darah merah, sehingga membutuhkan transfusi darah dalam jangka waktu tertentu.

    Apa yang menyebabkan thalasemia?

     Thalasemia bukanlah penyakit biasa, thalasemia merupakan kelainan genetik yang hanya bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Kebanyakan kasus thalasemia disebabkan oleh perkawinan antara pasangan yang membawa gen thalasemia, baik perkawinan antara orang normal dengan penderita thalasemia atau dengan sesama thalasemia minor. 
     Tentunya tidak semua perkawinan ini pasti menghasilkan thalasemia mayor, ada persentase terjadinya thalasemia mayor, minor, dan juga normal. Misalnya, seorang penderita thalasemia mayor menikah dengan orang normal maka probabilitas anaknya 100 persen pembawa gen thalasemia (thalasemia minor). Apabila sesama thalasemia minor menikah, maka dalam setiap kehamilan probabilitas 25 persen anaknya mengalami thalasemia mayor, 50 persen thalasemia minor, dan 25 persen normal.
     Lalu dampaknya thalasemia ini apa sih?
     Tentunya setiap penyakit maupun kelainan genetik memiliki resikonya masing-masing, tak terkecuali thalasemia. Perkiraan waktu hidup dari penderita thalasemia diperkirakan hanya berkisar kurang dari 35 tahun. Penderita thalasemia harus menerima transfusi darah seumur hidupnya jika ingin tetap bertahan hidup. Jangka waktu yang diperlukan untuk transfusi bagi setiap penderita berbeda-beda. Mulai dari setiap satu minggu sekali hingga beberapa bulan sekali. 
     Darah mengandung oksigen, sari-sari makanan, dan zat besi. Namun yang digunakan oleh penderita thalasemia hanyalah oksigen dan sari-sari makanannya saja, tidak dengan zat besinya. Zat besi atau ferritin dalam darah ini tidak digunakan dan lama kelamaan akan menumpuk dalam organ-organ tubuh dan dapat menimbulkan pembengkakan. Tak hanya pembengkakan, penimbunan zat besi dalam jangka waktu yang lama juga dapat menyebabkan kegagalan pada fungsi organ dalam tubuh.
     Transfusi yang dilakukan secara berkala dapat membuat tingginya kadar ferritin. Kadar ferritin yang tinggi dalam tubuh penderita thalasemia bisa dikurangi dengan obat-obat yang membuang kadar ferritin, contohnya ferifox. 
     Prosedur yang dilakukan para penderita thalasemia mayor memakan cukul banyak biaya. Saat ini Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menyediakan layanan dimana para penderita thalasemia mayor dari semua kalangan bisa mendapatkan pengobatan yang layak dengan harga yang lebih murah dari semestinya. Thalasemia ini memakan anggaran BPJS dengan nominal yang cukup besar. Penyakit ini termasuk dalam 10 penyakit teratas yang memakan anggaran BPJS yang besar.
    
    Apakah thalasemia bisa diobati? 
      Penanganan thalasemia yang mudah ialah dengan cara transfusi darah setiap jangka waktu tertentu. Kantung darah yang dibutuhkan untuk setiap pasien juga berbeda beda, diukur berdasarkan umur pasien. Prosedur seperti ini dilakukan satu kali hingga tiga kali dalam sebulan untuk setiap pasien. Walaupun mudah, prosedur seperti ini memakan biaya yang besar jika dilakukan terus menerus dan juga beresiko terjadi penumpukan ferritin.
     Thalasemia tidak bisa disembuhkan secara total, namun penderita thalasemia bisa terlepas dari transfusi darah yang menopang hidupnya. Pasien thalasemia bisa melakukan transplantasi sumsum tulang atau yang dikenal dengan sebutan bone marrow transplant (BMT). Prosedur ini baru bisa dilakukan di beberapa negara saja, seperti Singapura dan Thailand. Untuk prosedur bone marrow transplant ini memiliki persentase keberhasilan sekitar 95%. Bagi pasien yang ingin melakukan prosedur bone marrow transplant dianjurkan untuk melakukannya sebelum berusia 5 tahun. Tentu saja prosedur bone marrow transplant ini membutuhkan biaya yang sangatlah besar. 
    Lalu bagaimana caranya untuk menurunkan angka penderita thalasemia?
     Untuk setiap individu yang akan menikah, dihimbau untuk melakukan cek darah sebelum melangsungkan pernikahan. Dihimbau juga untuk individu yang membawa gen thalasemia untuk tidak menikah sesama pembawa gen atau dengan penderita thalasemia mayor demi menjaga keturunan agar tidak menderita kelainan yang tidak diinginkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

Kamis, 27 Juni 2019

Melawan Rasa Malas dalam Belajar!


Kalian pasti pernah kan ngerasa bosen atau gak mood buat belajar walaupun lagi banyak tugas sekalipun, males banget megang buku padahal besok ulangan, dan hasilnya jadi sks dan ga mendapatkan hasil yang memuaskan. Sekalinya dapet nilai bagus pas sks juga itu karena kerja sama sama temen sebangku. Bener kan? Hayo ngaku XD

Kenapa ya kok semangat belajar aku hilang gitu aja, padahal kan aku mau banget tuh jadi juara kelas, Aku harus apa ya?

Haaa! Kamu menemukan artikel yang tepat. Disini aku mau membahas mengapa kita tuh sering males belajar dan juga bagaimana cara untuk mengatasinya. Ok gausa banyak bacot, kita lanjutkan ke inti pembahasannya aja!

Kenapa sih kita males belajar? Apa penyebabnya?

  1.   Untuk apa kita belajar? 

  Kira kira kita belajar tuh buat apa sih? Apa gunanya buat kita? 

Pasti pernah kan kalian memikirkan hal seperti itu. Itu merupakan salah satu hal yang terkadang membuat kalian malas tuk belajar. Karena tujuan kamu yg tidak jelas seperti ini kamu jadi berfikiran untuk malas belajar dan akhirnya tugastugas yng harunya kmu kerjakan menjadi terbengkalai.

Kamu gabisa begini terus, kamu harus punya semangat.

Kamu harus menemukan motivasi untuk kembali belajar, motivasi bisa datang dari mana saja. Dengan adanya motivasi, kamu jadi punya tujuan untuk belajar. Ayo semangat!


       2.  Gaya belajarku seperti apa?

Nah ini, kenali gaya belajarmu terlebih dahulu. Masing-masing orang pasti punya gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih tertarik untuk membaca, mendengarkan lagu, atau ada juga yang lebih mudah belajar dengan rangkuman.

Gaya belajar dibagi menjadi 3, yaitu visual, audio, dan kinestetik.

Orang yang memiliki gaya belajar audio biasanya lebih mudah menangkap materi melalui cerita ataupun debat. Berbeda dengan orang yang memiliki gaya belajar visual, biasanya gaya belajar visual ini lebih mudah menangkap pelajaran dengan membaca atau mencatat. Dan kinestetik biasanya lebih mudah menangkap materi dengan cara eksperimen dan menganalisis langsung benda yang sedang dipelajarinya.


              3.   Temanku mengajakku bermain, dan itu lebih asik daripada harus belajar!

Saat mau belajar, ada temanmu yang mengajakmu untuk main. Kamu pilih mana? Belajar atau main? Mungkin kalian akan pilih main karena main itu lebih asik daripada belajar, bener gak?

Berat memang untuk menolak ajakan teman untuk bermain, apalagi kita sudah terbiasa bermain. Ada baiknya coba ajak temanmu untuk menemanimu belajar. Atau, kamu bisa mencari pergaulan yang lebih baik dengan teman yang lebih positif tentunya!


              4.  Bukuku tidak menarik! Aku lebih menyukai ponselku! 

Kamu pasti pernah tuh ngalamin saat dimana kamu ssedang belajar dan tibatiba ada bunyi notifikasi dari ponselmu, lalu kaumeninggalkan bukumu sesaat untuk mengeceknya terlebih dahulu. Eh yang yerjadi bukannya kamu kembali pada bukumu, malah kamu yang asik surfing di social media, duh.

Social media, game online dan lain sebagainya memang asik. Tapi kau harus ingat waktu, jangan berlebihan agar belajar kamu tidak terganggu. Saat kamu hendak belajar, ada baiknya untuk silent dulu ponsel kamu agar tidak mengganggu belajarmu. Jika masih tidak bisa, kamu boleh minta tolong orang tuamu untuk menyita ponselmu sementara waktu.


               5.    Aku lelah!

Kita bangun pagipagi, berangkat ke sekolah, lalu pulang hampir larut malam, belum lagi yang ditambah dengan les. Trus sampe rumah udah capek, masih harus belajar lagi? duh, lelah banget rasanya!

Oke, aku ngerti. Pasti saat kita pulang tuh pengen langsung istirahat. Tapi sebentar, masih ada tugas yang haruss dikerjakan. Tahan sebentar lelahmu, ayo kita tuntaskan dulu tugasnya. Lebih baik kita lelah di hari ini daripada kita harus menahan pahit dihari esok bukan?


             6.     Aku orangnya gampang bosan tau!

   Belajar tuh cuma baca buku, menulis, mengerjakan tugas, dan cuma gitu-gitu aja diulang-ulang terus, ngebosenin!

Eits, kata siapa belajar tuh hanya membaca? Bagi kalian yang kurang suka membaca kan bisa mencari video pembahasannya di internet. Belajar juga bisa dari lingkungan sehari-hari juga, eksperimen seherhana contohnya. Kamu juga bisa memulai belajar dari hal yang kamu sukai kok!

Saat kamu sudah menemukan keasyikan saat belajar, disitulah kamu akan nyaman. Ibarat ketemu pasangan yang cakep gitu, saat kamu nyaman sama dia, pasti kamu mau dong jalan sama dia terus-terusan? Belajar juga gitu kok :)



Banyak kan yang bisa kamu dapatkan dari belajar? Belajar itu gak monoton loh. Kamu harus hindari alasan-alasan yang bisa buat kamu malas. Jadi, buang jauh-jauh rasa malasmu! Ayo kita belajar! Dengan belajar kan kita dapat meraih nilai yang lebiih bagus, tentunya selangkah lebih maju tuk menggapai cita-cita!

Selamat belajar!


Salam,
Caca Tyas

Thalasemia : penyakit dari ketidakpedulian

    Thalasemia, apa itu?      Thalasemia ialah sebuah kelainan pada darah bawaan yang ditandai dengan kurangnya hemoglobin dalam darah yan...